Religiutas Vulgar sebagai bentuk Pencarian Nun
dalam sajak Iktikaf karya Bode riswandi1
Oleh Dicky Nugraha2
Abstrak: Kepenyairan Bode riswandi yang berkembang kearah sufistik, dipicu oleh kepekaannya dalam menyikapi kegelisahan dan luka menganga dalam kehidupan yang terus ada dan tak terjelaskan. Sajak-sajak dari Bode riswandi mulai menyoroti hubungan timbal balik antara Manusia dan Sang pencipta serta seolah ingin mengatakan sesuatu yang hadir namun tak tampak, dengan segala kemungkinan bentuk ungkap yang bermuculan dari hasil imajinya atas imaji. Banyak dari imajinya itu sulit direkonstruksi secara rasional. Oleh karena itu perlu sebuah pisau analisis yang tajam unuk membedah sajak-sajak Bode riswandi. Semiotika sebagai sebuah ilmu dan teori analisis karya sastra telah diakui dapat menangkap buah pikir dari seorang penyair, dirasa mumpuni untuk membedah sajak bersifat sufistik dari seorang Bode riswandi.
Kata Kunci : Religiulitas vulgar, Kajian semiotik, proses penyatuan.

1. Pendahuluan
Seorang penyair pada akhirnya adalah seorang filsuf. Bode riswandi dalam buku kumpulan sajaknya yang berjudul ”mendaki kantung matamu” terlihat telah memiliki kesatuan semesta yang utuh dalam tiap sajakya. Poin penting dari kefilsufan seorang bode riswandi terlihat dari salah satu sajak sufistiknya”iktiaf”. Dalam sajak ini terdapat paradox agama, Semitik yang amat bertentangan dengan etika seksual. Istilah pornografi hanya dikenal dikalangan agama-agama samawi ini. Pornografi semacam itu, tidak ada dilingkungan etika adat Indonesia pra-modern. Dahulu adat Indonesia pada jaman kerajaan, memang sangat kental akan seksualitas karena hal itu dipercaya sebagai arena penyatuan dan sesuatu yang sacral atau berhubungan dengan sang pencipta.
Berangkat dari situ, bode riswandi telah melakukan sebuah pencarian dalam “iktikaf”nya proses penyatuan dan gambaran anggota tubuh wanita perlambang keindahan serta, nama-nama para kekasih telah membangun semesta tersendiri dalam sajak ini. Maka sangatlah tepat bila bode riswandi dikatakan berhasil menjadi seorang filsuf yang sederhana tanpa harus mencipta ruang kefilsufannya terlalu lebar.
Dibawah ini adalah sebuah pencarian yang berujung pada penyatuan dengan sang pencipta
Iktikaf
Kekasih, berlah aku buah dada bugar
Buah dada yang memanjang dari langit-Mu
Langit yang menjadikan api sebagai taman mawar
Bagi Ibrahim

Kekasih, berilah aku paha bening
Paha seribu perawan dari cahaya-Mu
Cahaya yang menjadikan pohon keteguhan
Bagi Zakaria

Kekasih, berilah aku selangkangan basah
Selangkangan dari pintu-Mu
Pintu pelarian Yunus
Dari prahara menuju Nun

(karena aku mencintai-Mu
Maka larutlah engkau ke dalam sajakku
Menjadi tulang bagi setiap kata-katanya)

2. Landasan Teori Semiotika
Semiotik (kadang-kadang juga dipakai istilah semiologi) ialah ilmu yang secara sistematik mempelajari tanda-tanda dan lambang-lambang (semeion, bahasa Yunani = tanda), sistem-sistem lambang dan proses-proses perlambangan (Luxemburg, 1984:44)
Tanda dalam hubungan dengan acuannya dibedakan menjadi tanda yang dikenal dengan ikon, indeks, dan simbol. Ikon adalah tanda yang antara tanda dengan acuannya ada hubungan kemiripan dan biasa disebut metafora. Contoh ikon adalah potret. Bila ada hubungan kedekatan eksistensi, tanda demikian disebut indeks. Contoh indeks adalah tanda panah petunjuk arah bahwa di sekitar tempat itu ada bangunan tertentu. Simbol adalah tanda yang diakui keberadaannya berdasarkan hukum konvensi. Contoh simbol adalah bahasa tulisan.
Ikon, indeks, simbol merupakan perangkat hubungan antara dasar (bentuk), objek (referent) dan konsep (interpretan atau reference). Bentuk biasanya menimbulkan persepsi dan setelah dihubungkan dengan objek akan menimbulkan interpretan.
Hal ini dijelaskan Pradopo (2005:120) sebagai berikut.
”Tanda itu tidak hanya satu macam saja, tetapi ada beberapa berdasarkan hubungan antara penanda dan petandanya. Jenis-¬jenis tanda yang utama ialah ikon, indeks, dan simbol.
Ikon adalah tanda yang menunjukkan adanya hubungan yang bersifat alamiah antara penanda dan petandanya. Hubungan itu adalah hubungan persamaan, misalnya gambar kuda sebagai pe¬nanda yang menandai kuda (petanda) sebagai artinya. Potret menandai orang yang dipotret, gambar pohon menandai pohon.
Indeks adalah tanda yang menunjukkan hubungan kausal (sebab-akibat) antara penanda dan petandanya, misalnya asap menandai api, alat penanda angin menunjukkan arah angin, dan sebagainya.
Simbol adalah tanda yang menunjukkan bahwa tidak ada hubungan alamiah antara penanda dengan petandanya, hubu¬ngannya bersifat arbitrer (semau-maunya). Arti tanda itu diten¬tukan oleh konvensi. ‘Ibu’ adalah simbol, artinya ditentukan oleh konvensi masyarakat bahasa (Indonesia). Orang Inggris menyebutnya mother, Perancis menyebutnya la mere, dsb. Ada¬nya bermacam-macam tanda untuk satu arti itu menunjukkan “kesemena-menaan” tersebut. Dalam bahasa, tanda yang paling banyak digunakan adalah simbol.”
Selanjutnya dikatakan Pradopo (2005) bahwa dalam penelitian sastra dengan pende-katan semiotik, tanda yang berupa indekslah yang paling banyak dicari (diburu), yaitu berupa tanda-tanda yang menunjukkan hubungan sebab-akibat (dalam pengertian luasnya).
Menurut Zaimar (1991), analisis semiotik terhadap karya sastra sebaiknya dimulai dengan analisis bahasa dan menggunakan langkah-langkah seperti dalam tataran linguistic wacana. Langkah pertama adalah dengan menganalisis aspek sintaksis. Yang menjadi pedoman dalam tulisan ini adalah Tata Bahasa Baku Indonesia dan Pedoman EYD. Langkah kedua adalah dengan menganalisis aspek semantic. Analisis aspek semantic dalam puisi dapat berupa analisis denotasi, konotasi, majas dan isotopi. Kemudian langkah ketiga adalah analisis aspek pragmatic atau pengujaran.

3. Analisis Sintaksis
Saut situmorang pernah mengatakan bahwa puisi-puisi bode riswandi adalah puisi yang lepas dari virus linguistik yang sedang mewabah dalam dunia kepenyairan Indonesia dewasa ini. Namun tidak lepas kemungkinan bahwa untuk menangkap buah pikir dari sang penyair kita harus melewati bagian analisis sintaksis ini. Bila kita cermati dalam sajak ini terdapat 4 bait yang masing-masing terdiri dari: bait pertama, kedua dan ketiga 4 larik kemudian bait ke empat terdiri dari 3 larik. Bait pertama kedua dan ketiga yang masing-masing terdiri dari 4 larik puisi, sebernarnya adalah kumpulan kalimat imperatif langsung (kalimat perintah) hal itu ditandai dengan adanya diksi “berilah” yang merupakan ciri dari kalimat aktif. Untuk lebih jelasnya mari kita ubah bait pertama menjadi bentuk kalimat yang utuh (dengan tanda baca)

Kekasih, berilah aku buah dada bugar! Buah dada yang memanjang dari langit-MU, yang menjadikan api, taman mawar bagi ibrahim.

Kalimat diatas termasuk juga dalam golongan kalimat majemut bertingkat yang mana dapat di konfersi seperti ini :

Kekasih, berilah aku buah dada bugar yang memanjang dari langit-Mu yang menjadikan api, taman mawar bagi ibrahim.

Pemberian tanda baca setelah diksi kekasih disini seolah ingin memberikan penekanan bahwa ada jeda disitu, akan sangat tampak jika puisi ini dilisankan bahwa puisi merupakan sebuah percakapan dan dialog. Yang peperlu dicermati lagi adalah pemberian tanda kurung “()” pada bait terakhir, tanda kurung biasanya merupakan penegasan atau bagian yang memperjelas bagian sebelumnya. Dalam puisi ini seolah penyair ingin menegaskan maksud dari bait satu,dua dan tiga yang dijelaskan dalam bait terakhir.

Jika kita benrturkan pada pemberian judul kata iktikaf sendiri dalam segi adat dan keagamaan adalah proses pengurung diri selama 10 hari terakhir dibulan rhamadan, yang dimaksudkan untuk dapat lebih dekat dengan sang pencipta. Bait pertama kedua dan ketiga dari puisi ini seolah adalah penggambaran percakapan anatara sang penyair dan sang pencipta yang diberi keterangan lakuan pada bait terakhir.

4. Analisis Semantik
Mari kita lanjutkan analisis puisi ini dengan analisis sematik yaitu penemuan makna, namun sebelum kita utuh memaknai sebuah puisi terlebih dahulu yang harus dilakukan adalah analisis kata perkata dari puisi tersebut dengan pengelompokan isotopi.

Isotopi wanita
Buah dada
Perawan
Paha bening
Selangkangan basah

Isotopi ketuhanan
Kekasih
Cahaya-Mu
Mencintai-Mu
Langit-Mu
Nun

Isotopi penderitaan
Api
Prahara

Isotopi keindahan
Taman mawar
Pohon keteguhan

Hemat penulis keempat isotopi dapat menjadi acuan untuk kita menerukan motif dari sajak ini yaitu pertama isotopi wanita dalam banyak ilmu femenisme wanita seringkali dilambangkan sebagai pusat penyatuan, bagian bagian tubuh wanita dalam sajak ini seperti buah dada, paha perawan, dan selangkangan basah kerap kali menjurus kepada proses hubungan seksual yang sebagaimana sering dilambangkan sebagai sebuah proses penyatuan dan penciptaan apalagi dalam sajak ini bagai tubuh wanita tersebut disama maknakan dengan \ketuhanan atau lambang lambang kereligiusitasan Jadi motif pertama dalam sajak ini penyatuan antara seorang manusia dengan Tuhan. Motif kedua yaitu penderitaan dan motif keempat yaitu keindahan. Jika ditarik garis besar maka dapat disebutkan bahwa tema dari puisi ini adalah proses penyatuan anatara seorang insan dengan Tuhannya dari proses penderitaan menuju keindahan atau Nun.
Pemunculan Nun menimbulkan interpertasi bahwa atri kata itu sendiri memang tidak diketahui atau dapat ditafsirkan seperti dalam alQur’an alif lam Nun yang sering diartikan bahwa hanya tuhan yang Tahu.

5. Analisis aspek pragmatik
Dalam puisi ini ada dua tokoh yaitu aku dan Mu, dalam artian bahwa dalam sajak ini terjadi komunikasi anatar aku lirik dengan Mu sebagai pendengar, disini si tokoh aku berusaha untuk bercakap langsung dengan tokoh Mu karena munculnya kalimat perintah, percakapan ini terjadi sepihak karena memang tidak ada respon jawaban dari sitokoh Mu. Si tokoh aku seolah ingin menjelaskan bahwa ia amat mencintai ditokoh Mu ini dengan memberikan contoh orang-orang yang memang terkenal dalam sejarah agama sebagai para kekasih Tuhan yang utama. Kemudian si tokoh aku ini, menjelaskan lakuan yang dia lakukan dalam bait terakhirnya.
Pemberian simbol yang vulgar dengan mengumpamakan simbol-simbol religiulitas dengan bagian intim wanita memang sangat bertentangan dengan unsur normatif dalam sistem agama yang berlaku sekarang, namun bukan berarti hal ini tabu dan tak berlatarbelakang, bode sebagai penyair yang hidup di daerah agraris tasikmalaya, memang sangat terpengaruh oleh budaya agraris yang acap kali meyimbolkan proses penyemaian padi, tumbuh benih dengan proses hubungan seksualitas.

6. Penutup
Dengan mengucap bismillah, kesimpulan dari analisis sajak ini adalah bahwa munculnya lambang-lamng vulgar yang dibenturkan dengan konteks kereligiulitasan hubungan manusia dengan sang pencipta, menimbulkan suatu kesatuan semesta yang muncul dalam sajak ini, munculnya empat unsur seperti api,pohon,tanah dan basah(air) yang merupakan kelengkapan semesta dan merupakan elemen dasar penciptaan kehidupan.
Sajak ini telah mennyampakaikan bahwa untuk mencapai proses keintiman dengan sang pencipta kita terlebih dahulu harus melewati “prahara”, “api” agar terbentuk pohom keteguhan dan taman mawar dalam diri kita masing-masing, atau lebih jauh menuju Nun.

DAFTAR PUSTAKA
Sumiyadi. 2005. Pengkajian Puisi. Bandung: Pusat Studi Literasi
Riswandi, Bode. 2002. Mendaki Kantung Mata mu. Bandung: Ultimus
Pradopo, Rahmat Djoko. 1995. Beberapa Teori sastra, Metode Kritik dan Penerapannya. Yogyakarta : Pustaka Pelajar
Damaianti, Vismaia S. Dan Nunung S.2005. Sintaksis Bahasa Indonesia. Bandung : Pusat Studi iterasi Jurusan Pendikan Bahasa dan Sastra Indonesia FPBS UPI.
Esten, Mursal.1995.Memahami Puisi. Bandung: Angkasa

http://kamusbahasaindonesia.org

1. Tugas matakuliah Kajian Puisi Pengganti UAS
2. Penulis adalah Mahasiswa kelas C Prodi Pendidikan angkatan 2009 Jurusan Pendididkan Bahasa dan Sastra Indonesia FPBS UPI.